Paska Kasus Bayi Meninggal di Aceh Singkil, Masyarakat Keluhkan Kualitas Layanan di RSZA Kepada Haji Uma

0
82

Reportaseaceh.com,Banda Aceh – Munculnya kasus bayi meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Singkil pada penghujung tahun 2017 akibat terlambatnya tindak medis dengan alasan bahwa perawat yang mampu memasang infus sedang tidak bertugas, telah melahirkan reaksi dan tanggapan dari sejumlah kompomen masyarakat di Aceh, salah satunya anggota DPD RI, H. Sudirman alias Haji Uma.

Paska munculnya tanggapan Haji Uma terhadap kasus terkait di media lokal, kini masyarakat juga turut mengeluhkan kondisi layanan penanganan pasien yang mengecewakan di salah satu Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) di Banda Aceh.

Berdasarkan penuturan Haji Uma yang mengutip laporan masyarakat, mereka mengeluh terhadap lambannya tindakan medis terhadap pasien dengan kondisi kritis pada unit Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUZA. Bahkan, pasien kritis hanya ditangani dokter koas dan perawat,Karena dokter yang seharusnya bertugas tidak ditempat dan hanya mengarahkan perawat dan dokter koas melalui sambungan telfon jarak jauh dalam penanganan pasien.

“Ini adalah laporan dari keluarga pasien yang pernah dirawat di IGD RSUZA kepada saya paska munculnya kasus meninggalnya bayi akibat lalai dan lambannya tindakan medis di RSUD Aceh Singkil”, ungkap Haji Uma.

Kepada Haji Uma, masyarakat dari keluarga pasien dimaksud mengharapkan agar mendesak pihak terkait untuk melakukan pengawasan dan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan pasien di rumah sakit di Aceh serta adanya tindakan tegas terhadap setiap kelalaian dan tidak disiplin tugas tenaga medis yang beresiko terhadap keselamatan pasien.

“Seharusnya para dokter umum atau spesialis yang di gaji dengan uang rakyat Aceh berada di IGD untuk memberi tindakan medis dan menyelamatkan para pasien kiritis yang masuk IGD.

Bukan malah hanya ditangani oleh perawat praktek dan dokter koas serta melakukan tindakan melalui panduan komunikasi via HP”, ujar Haji Uma yang meniru laporan dari masyarakat kepadanya.

Menurut Haji Uma, layanan tidak berkualitas dan sebagaimana mestinya sangat melukai hati masyarakat Aceh, apalagi sampai meninggalnya pasien karena layanan tidak maksimal.

Karena operasional dan gaji petugas rumah sakit daerah dibiayai dengan uang rakyat melalui APBA atau APBK.Wajar jika kemudian rakyat putus asa dan memilih untuk berobat keluar negeri, khususnya Malaysia.

Menyikapi laporan masyarakat tersebut, Haji Uma berjanji untuk menindaklanjutinya, termasuk kemungkinan melakukan inspeksi dan pengawasan langsung,Karena hal tersebut masuk ranah pelanggaran terhadap pelaksanaan UU Kesehatan dan UU terkait lainnya.

Kemudian Haji Uma juga mengharapkan agar Pemerintah Aceh, memfokuskan perhatian secara prioritas terhadap pembenahan kualitas layanan medis dirumah sakit dengan melakukan evaluasi menyeluruh serta tindakan tegas untuk setiap pelanggaran,Hal ini penting untuk upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan medis pada seluruh rumah sakit di Aceh.

Dalam hal ini, Haji Uma juga berharap agar proses penempatan pejabat di rumah sakit harus figur yang memiliki integritas, visi pembaharuan dan kompetensi,Dengan demikian diharapkan akan berdampak pada proses seleksi dan evaluasi SDM medis di setiap tumah sakit.

Sudah saatnya pembaharuan aspek layanan secara berkualitas disetiap rumah sakit di Aceh,Hal ini menurut Haji Uma juga menjadi salah satu aspek pendukung bagi pelaksanaan program JKA Plus yang akan diterapkan di Aceh.(Red).