ACEH MENANG, MERDEKA DAN KAYA RAYA

0
61

Motivasi Jumat, Edisi – 11
24 Rabiul Akhir 1439 H – 12 Januari 2018

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Apa Kabar Sahabat “AKHAN” (Akmal Hanif)
Semoga selalu sehat melaksanakan aktfitas dalam Ridha Allah. Saya awali tulisan jumat ini dengan ucapan Selamat kepada Pejuang Aceh yang telah memenangkan Gugatan terkait permohonan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi, mengembalikan UU Pemerintahan Aceh (UUPA) kepada rakyat Aceh. Semoga menjadi hikmah pelaksanaan Pesta Demokrasi yang lebih baik bagi Aceh di waktu mendatang.

Jumat lalu saya menyebut tentang 10 Masalah yang saat ini masih menjadi harapan besar bagi masyarakat Aceh, sebagai rakyat yang hidup di Nanggroe yang Menang, Merdeka dan Kaya Raya ini.

Jumat ini saya coba mengajak sahabat melihat kondisi Aceh yang masih kekurangan Sarana dan Prasarana Insfrastruktur sebagai Fasilitas Pendukung Pelayanan Publik di sejumlah kabupaten kota. Seperti sarana Ibadah, Pertanian, Pendidikan, Sosial, Kesehatan, Olahraga dan ruang kebutuhan publik yang ramah masyarakat.

Saya tertarik pada tulisan di Serambi Indonesia (3/1/2018) data Badan Pusat Statistik (BPS), Aceh menempati posisi ke-6 dari daerah-daerah miskin di Indonesia.
Untuk sebuah nanggroe yang kaya sumber daya alam, bukankah hal ini sangat ironi? Padahal Aceh mendapat dana Otsus dengan jumlah sangat besar, yang jika dikelola dengan serius dan baik akan memberi dampak signifikan pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Namun kenyataannya, pertumbuhan ekonomi di Aceh 2017 hanya sebesar 2,87 persen. Angka ini di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu tumbuh 5,01 persen. Penganguran Aceh berkisar pada angka 8% lebih dari angkatan kerja atau di atas rata-rata Nasional pada kisaran 5%, angka kemiskinan di provinsi Aceh juga sangat kronis mencapai angka 18% dari jumlah penduduk, angka ini juga di atas rata-rata tingkat kemiskinan Nasional berkisar pada 10%. Tingkat pendapatan perkapita masyarakat Aceh berkisar Rp 26 juta/kapita yang berada dibawah rata-rata nasional Rp 42 juta per kapita. (BPS 2017)

Bagaiman pula kabarnya dengan APBA 2018? Semoga segera ada keputusan antara bapak-bapak kita di *Legislatif dan Eksekutif* untuk serius membahas kepentingan kita sebagai rakyat Aceh (sekali lagi) yang Menang dan Merdeka.

Sementara itu dari Nasional sejak tahun lalu sudah terdengar kabar banyaknya proyek insfrastruktur raksasa yang akan dibangun di Aceh pada 2018 ini. Seperti pembangunan Jalur KA Bireun-Lhokseumawe, KA Trans Sumatera antara Besitang-Langsa, Bendungan Kaureto, Bendungan Rukoh, Bendungan Tiro, pembangunan pembangkit tenaga listrik dan percepatan pembangunan infrastruktur untuk Kawasan Ekonomi Khusus di Lhokseumawe.

Semoga saja proyek-proyek besar ini benar dapat terwujud dan di ikuti proyek sarana infrastruktur lain yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai rakyat kecil yang tidak memiliki kekuasaan kita tentu tidak bisa berbuat banyak, sebagai rmasyarakat biasa yang tidak punya wewenang kita tidak bisa memberi banyak solusi. Selain berharap pemerintah Aceh memanfaatkan seluruh potensi dan keunggulan Aceh agar dapat mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi di Aceh, sekaligus memberikan kesejahteraan pada rakyat Aceh, dengan pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat hingga pelosok gampong terpencil.

Pemerintah juga kita harap lebih fokus untuk pengembangan sektor-sektor unggulan, seperti sektor pertanian dan industri pengolahan, serta melakukan integrasi antar sektor, hilirisasi industri, dan tentunya penyiapan SDM.

Jika ingin menyebut Aceh Menang, Merdeka dan Kaya Raya, menurut saya indikator terpenting adalah kesejahteraan rakyat, bukan sekedar kemenangan secara politik dan undang-undang namun tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan tidak berdampak pada pembangunan.

Semoga Nanggroe Aceh menjadi Negeri yang Makmur dan dijauhi dari Bala Bencana,
*Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.*

Aamiin Ya Allah, Ya Rabbal Aalamiin.

Hasbunallah wa Ni’mal Wakil
Salam Jumat Mubarak dari Makkah Al Mukarramah.

H. Akmal Hanif, Lc.
Ketua Umum Komunitas Solidaritas Dhuafa Aceh(KSDA).
CEO Elhanief Group.